Senin, 09 April 2012

H. Santosa, Batik Danar Hadi Eksis di Pasar Karena Mengikuti Selera Konsumen


Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu negara penghasil batik terkemuka di dunia. Hal itu tidak terlepas dari kiprah ribuan pengusaha batik di tanah air yang selama puluhan tahun menggeluti usaha tersebut. Namun dari ribuan pengusaha batik itu, hanya segelintir pengusaha saja yang berhasil mengembangkan usahanya dengan membangun citra mereknya sendiri hingga dikenal di pasar mancanegara.


Salah satu pengusaha batik yang kini berhasil menyandang nama besar itu adalah H. Santosa, juragan batik asal kota Solo, Jawa Tengah yang telah berhasil membangun dan mengembangkan industri batik dengan merek dagang ‘Batik Danar Hadi’. Masyarakat Indonesia dan para pecinta batik dunia mengenal merek Batik Danar Hadi karena memiliki kualitas tinggi sehingga menempatkan merek batik ini di jajaran elit di pasar Batik Nasional maupun Global.

H. Santosa menuturkan perjalanan sejarah perusahaannya yang ia bangun bersama istrinya mulai dari nol dan kunci rahasia sukses dalam membangun dan mengembangkan ‘Batik Danar Hadi’. H. Santosa (kini berusia 64 tahun) mulai merintis usaha Batik Danar Hadi pada tahun 1967, pada usia 26 tahun, setelah menikahi wanita idamannya, Danarsih. Nama istrinya itu pula yang memberikan inspirasi kepada Santosa dalam memberi nama usaha batiknya itu dengan mengambil dua suku kata pertama nama istrinya dan diembel-embeli dengan nama depan bapak mertua (ayah istrinya). Jadilah nama ‘Batik Danar Hadi’ sebagai merek batik produksi Santosa.

Ketika memulai usaha Santosa masih sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun desakan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap keluarga yang mendorong Santosa untuk lebih memfokuskan perhatiannya kepada usaha batik yang baru saja ia dirikan. Kegiatan penyusunan skripsinya yang sudah mencapai tahap akhir pun terpaksa ia tinggalkan begitu saja.

Dunia usaha batik memang bukan barang baru bagi Santosa. Sebab, kakeknya bernama Wongsodinomo juga memiliki usaha batik walaupun usaha batik yang digeluti kakeknya lebih cenderung mengarah ke arah seni batik. Selain itu, istri Santosa juga berasal dari keluarga pengusaha batik. Dengan berbekal pengalaman keluarga yang pernah ia saksikan dalam mengelola usaha batik ditambah dengan kreatifitas, inovasi dan kemauan keras serta pengetahuan manajemen perusahaan yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah, telah memantapkan tekad Santosa untuk menggeluti bidang tersebut.


Keputusan Santosa untuk terjun ke dunia usaha batik ketika itu sebetulnya dapat dinilai merupakan keputusan yang sangat berani. Sebab, situasi ekonomi pada saat itu sedang tidak kondusif bagi usaha perbatikan dimana banyak usaha batik yang gulung tikar akibat permintaan pasar yang sedang lesu. Namun kondisi itu tidak menyurutkan tekad Santosa untuk mengembangkan usaha batiknya, karena Santosa yakin usaha batik di dalam negeri akan kembali bergairah apabila diberi sentuhan-sentuhan inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar. Keyakinan Santosa tersebut ternyata terbukti. Dengan berbagai sentuhan desain dan motif baru hasil pengembangan Santosa, pasar batik di dalam negeri kembali bergairah. Setahap demi setahap merek Batik Danar Hadi mulai dikenal konsumen. Permintaan produk batik dengan merek Batik Danar Hadi pun terus mengalami peningkatan hingga akhirnya merek Batik Danar Hadi dikenal secara luas di masyarakat.

Sukses yang dicapai Santosa ini kemudian menjadi acuan para pengusaha batik lainnya. Secara perlahan tapi pasti, para pengusaha batik baru pun mulai bermunculan. Bahkan para pengusaha batik yang sempat menutup usahanya pun kembali tergerak untuk membuka kembali usaha batiknya.

Santosa memulai usaha batiknya dengan mempekerjakan 20 orang karyawan yang terdiri dari pembatik, pencelup dan penggambar motif. Kegiatan usaha batik Santosa diawali dengan memproduksi batik tulis Wonogiren. Di luar dugaan, batik tulis motif Wonogiren adalah produksi perdana Santosa dengan merek Batik Danar Hadi laku keras di pasar. “Batik tulis Wonogiren ini ternyata sangat disenangi pasar. Kami menerima pesanan sampai ribuan kodi,” kata Santosa mengenang masa-masa awal kegiatan usahanya.

Setelah sukses dengan batik tulis Wonogirennya, untuk mengembangkan industri batiknya sekaligus untuk meningkatkan kemampuan produksi batik yang makin diminati pasar, maka pada tahun 1968 Santosa membuka perkampungan batik –mirip sentra industri kerajinan batik yang berada di perkampungan penduduk di sekitar rumah Santosa—yang dikelola oleh PT Batik Danar Hadi. Kemudian pada 1970 Santosa juga mendirikan sentra usaha batik di Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Selanjutnya pada tahun 1975 Santosa juga mendirikan sentra usaha batik di Pekalongan yang memproduksi berbagai jenis dan motif batik. Pendirian sentra usaha batik ini tidak lepas dari adanya tuntutan pasar sejalan dengan makin meluasnya penggunaan kain batik untuk pakaian. Hal itu juga sangat terkait dengan mulai masuknya kain batik ke dunia mode (fashion), khususnya penggunaan kain batik dalam pembuatan kemeja pria dan berbagai pakaian wanita mulai dari atasan, rok/gaun, baju pesta dll.


Untuk mempromosikan penggunaan kain batik untuk pakaian, Santosa pun mulai menggelar sejumlah kegiatan peragaan busana (fashion show) yang menggunakan kain batik seperti di sejumlah hotel di Singapura, di Hotel Indonesia dan Hotel Borobudur Jakarta dll.

Guna lebih mengefektifkan kegiatan peragaan busana dalam rangka memperkuat kegiatan promosi penggunaan kain batik, Santosa melakukan kerjasama dengan sejumlah desainer seperti Hari Darsono dan Prayudi dalam menggelar sejumlah Fashion Show. Selain itu, Santosa pun mulai melirik bisnis ritel kain dan pakaian jadi batik dengan membuka sejumlah outlet seperti di Jl. Raden Saleh dan kawasan Tebet, Jakarta (tahun 1975). Selain di Jakarta sendiri (kini juga ada di Jl. Melawai Raya dan Jl. Wijaya I), kini outlet-outlet tersebut sudah berkembang ke berbagai kota lain seperti Semarang, Yogyakarta, Medan, Surabaya, Bali dll., bahkan Santosa pun sempat membuka sejumlah outlet di luar negeri, seperti di Singapura dan di Jedah.

Kegiatan eskpor batik pun sudah digeluti Santosa sejak lama dan kini sudah ada pembeli tetap berbagai produk batik Danar Hadi di luar negeri. Kegiatan ekspor batik yang kini dilakukan Santosa secara rutin antara lain ke Amerika Serikat, Italia dan Jepang. Dengan terus berkembangnya usaha batik, baik di dalam maupun di luar negeri, maka jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan Santosa pun terus meningkat dari awalnya hanya 20 orang karyawan, kini menjadi lebih dari 1.000 orang di seluruh tanah air.

Santosa tidak segan-segan mengungkapkan resep keberhasilannya. “Saya sebetulnya sangat mencintai pekerjaan saya ini yang saya anggap sebagai sesuatu yang sangat special. Saya mencintai kegiatan processing maupun membuat desain batik. Namun agar dapat laku di pasar maka kegiatan produksi batik itu mulai dari pembuatan desain, motif maupun warnanya harus selalu mengikuti trend dan permintaan pasar,” kata pria kelahiran Solo, 7 Desember 1941, anak ke-5 dari 10 bersaudara putra dari pasangan dr. Doelah dan Ny. Fatimah.

Santosa mengaku dalam proses penciptaan kreasi-kreasi dan inovasi batik, dirinya tidak pernah mengerjakannya sendirian tapi selalu bekerjasama dengan para desainer di perusahaannya. “Saat ini kami memiliki sekitar 30 tenaga desainer. Mereka adalah para desainer professional dan sangat terampil memanfaatkan teknologi komputer dalam menciptakan kreasi-kreasi dan inovasi baru di dunia perancangan mode,” tutur bapak dari empat anak ini.


Selain itu, dalam mempertahankan kualitas produk batiknya, Santosa juga selalu menerapkan konsep batik asli dalam kegiatan produksi batik Danar Hadi. Sebab, berdasarkan pengalaman, banyak pengusaha batik tidak dapat bertahan lama karena mereka tidak menggunakan proses batik yang asli dan tidak mengikuti trend permintaan pasar baik menyangkut motif maupun warna. Proses batik yang asli adalah metode batik Indonesia mulai dari penggambaran motif, penempelan lilin, pencelupan dst. Dengan proses batik asli tersebut Batik Danar Hadi sendiri kini memproduksi berbagai jenis batik mulai dari batik bermotif pedalaman (kraton) sampai dengan batik pesisiran.

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, Santosa mengaku yakin batik Indonesia masih bisa terus berkembang asalkan industri batik di dalam negeri bisa mengikuti selera pasar. Karena batik itu bukan hanya untuk dipakai sendiri tapi oleh konsumen. Karena itu, industri batik harus mengikuti selera konsumen.

“Saya tidak khawatir dengan batik dari luar negeri karena perkembangan motif dan industri batik di Indonesia sudah jauh lebih maju dari luar negeri. Kita juga tidak perlu takut karena teknik batik Indonesia jauh lebih unggul dari teknik batik luar negeri. Namun demikian, kita harus terus berupaya untuk maju dan mengikuti trend dan selera pasar. Selama kita melaksanakan dengan baik, maka kita tidak perlu khawatir dengan batik-batik dari negara lain,” tegas Santosa.

Industri batik Indonesia juga tidak boleh dibiasakan untuk meniru, sebaliknya harus selalu terpacu untuk membuat sesuatu yang baru. Karena aspek originalitas itu selalu mempunyai tempat tersendiri di pasar. Namun demikian Santosa mengaku tidak keberatan apabila ide-ide batiknya ditiru orang lain. “Malah saya bersyukur kalau hasil kreasi saya ditiru orang lain. Karena, itu berarti ide-ide saya berguna bagi orang lain.”
Untuk melestarikan budaya dan seni batik nasional, pada tahun 1999 Santosa mendirikan museum batik di kota Solo yang lokasinya persis di samping rumah kediamannya. Museum batik Danar Hadi itu kini memiliki lebih dari 10.000 koleksi batik dari berbagai daerah di seluruh Indonesia disamping koleksi motif batik produksi Danar Hadi sendiri.

Museum batik tersebut didirikan Santosa sebagai wujud dari kecintaan Santosa terhadap batik Indonesi agar suatu kelak nanti anak cucunya dapat melihat karya besarnya serta meneruskan tradisi batik keluarganya.

Kesimpulan :
Dengan tekad dan kemauan keras apapun yang kita lakukan sunguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil ..

Referensi :

Majalah KINA Edisi 4 2008   
                 

                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar